Senin, 31 Maret 2014

SEJARAH PEREKONOMIAN INDONESIA

Sejarah Perekonomian Indonesia Masa Orde Lama, Orde Baru dan Reformasi

1.    Pemerintahan Orde Lama (1945 - 1966)
Add caption
      Orde Lama yang dipimpin oleh Presiden Soekarno. Berkuasa dari tahun 1945 sampai tahun 1966. pada saat orde lama, pemerintahan indonesia dibagi menjadi 3, sehingga kebijakan ekonomi yang diambil pun berbeda-beda. Diantaranya :

a.    Pasca Kemerdekaan

Pada awal kemerdekaan, perekonomian indonesia sangat kacau mulai dari inflasi yang tidak terkendali ditambah kas negara yang kosong karena tidak adanya pajak dan bea masuk menjadi salah satu penyebabnya.
Latar belakang keadaan yang kacau tersebut disebabkan oleh :
• Indonesia yang baru saja merdeka belum memiliki pemerintahan yang baik, dimana belum ada pejabat khusus yang bertugas untuk menangani perekonomian Indonesia.
• Sebagai negara baru Indonesia belum mempunyai pola dan cara untuk mengatur ekonomi keuangan yang mantap.
• peninggalan pemerintah pendudukan Jepang dimana ekonomi saat pendudukan Jepang memang sudah buruk akibat pengeluaran pembiayaan perang Jepang. Membuat pemerintah baru Indonesia agak sulit untuk bangkit dari keterpurukan.
• Kondisi keamanan dalam negeri sendiri tidak stabil akibat sering terjadinya pergantian kabinet, dimana hal tersebut mendukung ketidakstabilan ekonomi.
• Politik keuangan yang berlaku di Indonesia dibuat di negara Belanda guna menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia bahkan untuk menghancurkan ekonomi nasional.
• Belanda masih tetap tidak mau mengakui kemerdekaan Indonesia dan masih terus melakukan pergolakan politik yang menghambat langkah kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi.

Faktor- faktor penyebab kacaunya perekonomian Indonesia 1945-1950 adalah sebagai berikut :

1) Terjadi Inflasi yang sangat tinggi
Inflasi tersebut dapat terjadi disebabakan karena :
• Beredarnya mata uang Jepang di masyarakat dalam jumlah yang tak terkendali (pada bulan Agustus 1945 mencapai 1,6 Milyar yang beredar di Jawa sedangkan secara umum uang yang beredar di masyarakat mencapai 4 milyar).
• Beredarnya mata uang cadangan yang dikeluarkan oleh pasukan Sekutu dari bank-bank yang berhasil dikuasainya untuk biaya operasi dan gaji pegawai yang jumlahnya mencapai 2,3 milyar.
• Republik Indonesia sendiri belum memiliki mata uang sendiri sehingga pemerintah tidak dapat menyatakan bahwa mata uang pendudukan Jepang tidak berlaku.
       Pemerintah Indonesia yang baru saja berdiri tidak mampu mengendalikan dan menghentikan peredaran mata uang Jepang tersebut sebab Indonesia belum memiliki mata uang baru sebagai penggantinya. Pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk sementara waktu menyatakan ada 3 mata uang yang berlaku di wilayah RI, yaitu:
• Mata uang De Javasche Bank
• Mata uang pemerintah Hindia Belanda
• Mata uang pendudukan Jepang

2) Adanya Blokade ekonomi dari Belanda
Blokade oleh Belanda ini dilakukan dengan menutup (memblokir) pintu keluar-masuk perdagangan RI terutama melalui jalur laut dan pelabuhan-pelabuhan penting. Blokade ini dilakukan mulai bulan November 1945. Dengan adanya blokade tersebut menyebabakan:
• Barang-barang ekspor RI terlambat terkirim.
• Barang-barang dagangan milik Indonesia tidak dapat di ekspor bahkan banyak barang-barang ekspor Indonesia yang dibumi hanguskan.
• Indonesia kekurangan barang-barang import yang sangat dibutuhkan.
• Inflasi semakin tak terkendali sehingga rakyat menjadi gelisah.
Tujuan/harapan Belanda dengan blokade ini adalah :
• Agar ekonomi Indonesia mengalami kekacauan
• Agar terjadi kerusuhan sosial karena rakyat tidak percaya kepada pemerintah Indonesia, sehingga pemerintah Belanda dapat dengan mudah mengembalikan eksistensinya.
• Untuk menekan Indonesia dengan harapan bisa dikuasai kembali oleh Belanda.

3) Kekosongan kas Negara
Kas Negara mengalami kekosongan karena pajak dan bea masuk lainnya belum ada sementara pengeluaran negara semakin bertambah. Penghasilan pemerintah hanya bergantung kepada produksi pertanian. Karena dukungan dari bidang pertanian inilah pemerintah Indonesia masih bertahan, sekalipun keadaan ekonomi sangat buruk.

Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan ekonomi,antara lain :
1. Program Pinjaman Nasional dilaksanakan oleh menteri keuangan IR. Surachman pada bulan Juli 1946. Salah satunya ke provinsi terkaya saat itu yaitu aceh
2. Upaya menembus blockade dengan diplomasi beras ke India (India merupakan Negara yang mengalami nasib yang sama dengan Indonesia yaitu sama-sama pernah dijajah, Indonesia menawarkan bantuan berupa padi sebanyak 500.000 ton dan India menyerahkan sejumlah obat-obatan kepada Indonesia),mengadakan kontak dengan perusahaan swasta Amerika, dan menembus blockade Belanda di Sumatera dengan tujuan ke Singapura dan Malaysia.
3. Konferensi Ekonomi Februari 1946 dengan tujuan untuk memperoleh kesepakatan yang bulat dalam menanggulangi masalah-masalah ekonomi yang mendesak, yaitu : masalah produksi dan distribusi makanan, masalah sandang, serta status dan administrasi perkebunan-perkebunan.
4. .Pembentukan Planning Board (Badan Perancang Ekonomi) 19 Januari 1947
Rekonstruksi dan Rasionalisasi Angkatan Perang (Rera) 1948, mengalihkan tenaga bekas angkatan perang ke bidang-bidang produktif.
5. Kasimo Plan yang intinya mengenai usaha swasembada pangan dengan beberapa petunjuk pelaksanaan yang praktis. Dengan swasembada pangan, diharapkan perekonomian akan membaik (mengikuti Mazhab Fisiokrat : sektor pertanian merupakan sumber kekayaan).

b.    Masa Liberal
Permasalah ekonomi yang dihadai oleh bangsa Indonesia masih sama seperti sebelumnya. Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi masalah ekonomi, antara lain :
1. Program Benteng (Kabinet Natsir), yaitu upaya menumbuhkan wiraswastawan pribumi dan mendorong importir nasional agar bisa bersaing dengan perusahaan impor asing dengan membatasi impor barang tertentu dan memberikan lisensi impornya hanya pada importir pribumi serta memberikan kredit pada perusahaan-perusahaan pribumi agar nantinya dapat berpartisipasi dalam perkembangan ekonomi nasional. Namun usaha ini gagal, karena sifat pengusaha pribumi yang cenderung konsumtif dan tak bisa bersaing dengan pengusaha non-pribumi.
Pada kabinet ini untuk pertama kalinya terumuskan suatu perencanaan pembangunan yang disebut Rencana Urgensi Perekonomian (RUP)
2. Nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia pada 15 Desember 1951 lewat UU no.24 th 1951 dengan fungsi sebagai bank sentral dan bank sirkulasi. (Kabinet Sukiman)
3. Sistem ekonomi Ali (kabinet Ali Sastroamijoyo I) yang diprakarsai Mr Iskak Cokrohadisuryo, yaitu penggalangan kerjasama antara pengusaha cina dan pengusaha pribumi. Pengusaha non-pribumi diwajibkan memberikan latihan-latihan pada pengusaha pribumi, dan pemerintah menyediakan kredit dan lisensi bagi usaha-usaha swasta nasional. Program ini tidak berjalan dengan baik, karena pengusaha pribumi kurang berpengalaman, sehingga hanya dijadikan alat untuk mendapatkan bantuan kredit dari pemerintah. (Kabinet ini sangat melindungi importer pribumi, sangat berkeinginan mengubah perekonomian dari struktur colonial menjadi nasional)
4. Pembatalan sepihak atas hasil-hasil Konferensi Meja Bundar, termasuk pembubaran Uni Indonesia-Belanda. Akibatnya banyak pengusaha Belanda yang menjual perusahaannya sedangkan pengusaha-pengusaha pribumi belum bisa mengambil alih perusahaan-perusahaan tersebut.(Kabinet Burhanuddin)
5. Gunting Syarifuddin
      Kebijakan gunting syarifuddin adalah pemotongan nilai uang. Tindakan keuangan ini dilakukan pada tanggal 20 maret 1950 dengan cara memotong semua uang memotong semua uang yang bernilai Rp. 2,50 keatas hingga nilainya tinggal setengahnya. Kebijakan keuangan ini dilakukan pada masa pemerintahan RIS oleh menteri keuangan pada waktu itu Syarifuddin Prawiranegara.
6. Rencana Pembangunan Lima tahun (RPLT)
      Pada masa kabinet Ali Sastroamijoyo II, pemerintah membentuk Badan Perencanaan Pembangunan Nasional yang disebut Biro Perancang Negara. Ir. Djuanda diangkat sebagai menteri perancang nasional. Pada bulan Mei 1956, Biro ini berhasil menyusun Rencana Pembangunan Lima Tahun (RPLT) yang rencananya akan dilaksanakan antara tahun 1956-1961. Rencana Undang-Undang tentang rencana Pembangunan ini disetujui oleh DPR pada tanggal 11 November 1958. Pembiayaab RPLT ini diperkirakan mencapai Rp. 12,5 miliar.

C.    Masa Demokrasi Terpimpin
Sebagai akibat dari dekrit presiden 5 Juli 1959, maka Indonesia menjalankan sistem demokrasi terpimpin dan struktur ekonomi Indonesia menjurus pada sistem etatisme (segala-galanya diatur oleh pemerintah). Dengan sistem ini, diharapkan akan membawa pada kemakmuran bersama dan persamaan dalam sosial, politik,dan ekonomi. Akan tetapi, kebijakan-kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah di masa ini belum mampu memperbaiki keadaan ekonomi Indonesia, antara lain :
1. Devaluasi yang diumumkan pada 25 Agustus 1959 menurunkan nilai uang sebagai berikut :Uang kertas pecahan Rp 500 menjadi Rp 50, uang kertas pecahan Rp 1000 menjadi Rp 100, dan semua simpanan di bank yang melebihi 25.000 dibekukan.
2. Pembentukan Deklarasi Ekonomi (Dekon) untuk mencapai tahap ekonomi sosialis Indonesia dengan cara terpimpin. Dalam pelaksanaannya justru mengakibatkan stagnasi bagi perekonomian Indonesia. Bahkan pada 1961-1962 harga barang-baranga naik 400%.
3. Devaluasi yang dilakukan pada 13 Desember 1965 menjadikan uang senilai Rp 1000 menjadi Rp 1. Sehingga uang rupiah baru mestinya dihargai 1000 kali lipat uang rupiah lama, tapi di masyarakat uang rupiah baru hanya dihargai 10 kali lipat lebih tinggi. Maka tindakan pemerintah untuk menekan angka inflasi ini malah meningkatkan angka inflasi.

2.    Masa Orde Baru (1966 - 1998)

      Struktur perekonomian Indonesia pada tahun 1950-1965 dalam keadaan kritis. Pada masa Demokrasi Terpimpin, negara bersama aparat ekonominya mendominasi seluruh kegiatan ekonomi sehingga mematikan potensi dan kreasi unit-unit ekonomi swasta. Sehingga, pada permulaan Orde Baru program pemerintah berorientasi pada usaha penyelamatan ekonomi nasional terutama pada usaha mengendalikan tingkat inflasi, penyelamatan keuangan negara dan pengamanan kebutuhan pokok rakyat.
Tindakan pemerintah ini dilakukan karena adanya kenaikan harga pada awal tahun 1966 yang menunjukkan tingkat inflasi kurang lebih 650 % setahun. Hal itu menjadi penyebab kurang lancarnya program pembangunan yang telah direncanakan pemerintah. Secara garis besar, upaya pemulihan struktur perekonomian dan pembangunan pada masa orde baru, pemerintah menempuh cara sebagai berikut :
1)    Stabilisasi dan Rehabilitasi Ekonomi. Yang dimaksud dengan stabilisasi ekonomi berarti mengendalikan inflasi agar harga barang-barang tidak melonjak terus. Dan rehabilitasi ekonomi adalah perbaikan secara fisik sarana dan prasarana ekonomi. Hakikat dari kebijakan ini adalah pembinaan sistem ekonomi berencana yang menjamin berlangsungnya demokrasi ekonomi ke arah terwujudnya masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.
2)    Kerja Sama Luar Negeri
3)    Pembangunan Nasional
Tujuan Pembangunan nasional adalah menciptakan masyarakat adil dan makmur yang merata materiil dan spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Pelaksanaannya pembangunan nasional dilakukan secara bertahap yaitu :

1)      Jangka panjang mencakup periode 25 sampai 30 tahun
2) Jangka pendek mencakup periode 5 tahun (Pelita/Pembangunan Lima Tahun), merupakan jabaran lebih rinci dari pembangunan jangka panjang sehingga tiap pelita akan selalu saling berkaitan/berkesinambungan.
    Pelaksanaan Pembangunan Nasional yang dilaksanakan pemerintah Orde Baru berpedoman pada Trilogi Pembangunan dan Delapan jalur Pemerataan. Inti dari kedua pedoman tersebut adalah kesejahteraan bagi semua lapisan masyarakat dalam suasana politik dan ekonomi yang stabil. Isi Trilogi Pembangunan adalah :     Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya menuju kepada terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
•    Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya menuju kepada terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
•    Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi
•    Stabilitas nasional yang sehat dan dinamis.
Selama masa Orde Baru terdapat 6 Pelita, yaitu :
1)    Pelita I (1 April 1969 hingga 31 Maret 1974)
•    Menitik beratkan pada sektor pertanian dan industri yang mendukung sektor pertanian.
•    Tujuannya adalah untuk meningkatkan taraf hidup rakyat dan sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi pembangunan dalam tahap berikutnya dengan sasaran dalam bidang Pangan, Sandang, Perbaikan prasarana, perumahan rakyat, perluasan lapangan kerja, dan kesejahteraan rohani.
2)    Pelita II  (1 April 1974 hingga 31 Maret 1979.)
•    Menitik beratkan pada sektor pertanian dengan meningkatkan insdutri yang mengolah bahan mentah menjadi bahan baku.
•    Sasaran utamanya adalah tersedianya pangan, sandang,perumahan, sarana dan prasarana, mensejahterakan rakyat dan memperluas kesempatan kerja.
•    pertumbuhan ekonomi rata-rata mencapai 7% per tahun. Pada awal pemerintahan Orde Baru laju inflasi mencapai 60% dan pada akhir Pelita I laju inflasi turun menjadi 47%. Selanjutnya pada tahun keempat Pelita II, inflasi turun menjadi 9,5%.
3)    Pelita III (1 April 1979 hingga 31 Maret 1984.)
Menitikberatkan pada sektor pertanian menuju swasembada pangan dan meningkatkan industri yang mengolah bahan baku menjadi barang jadi.
4)    Pelita IV (1 April 1984 hingga 31 Maret 1989.)
•    Titik beratnya adalah sektor pertanian menuju swasembada pangan dan meningkatkan industri yang dapat menghasilkan mesin industri sendiri.
•    Terjadi resesi pada awal tahun 1980 yang berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia. Pemerintah akhirnya mengeluarkan kebijakan moneter dan fiskal sehingga kelangsungan pembangunan ekonomi dapat dipertahankan.
5)    Pelita V (1 April 1989 hingga 31 Maret 1994.)
•    Titik beratnya pada sektor pertanian dan industri.
•    Indonesia memiki kondisi ekonomi yang cukup baik dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 6,8 % per tahun.
6)    Pelita VI (1 April 1994 hingga 31 Maret 1999.)
•    Titik beratnya masih pada pembangunan pada sektor ekonomi yang berkaitan dengan industri dan pertanian serta pembangunan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai pendukungnya.
•    Sektor ekonomi dipandang sebagai penggerak utama pembangunan. Pembangunan nasional Indonesia dari pelita ke pelita berikutnya terus mengalami peningkatan keberhasilan pembangunan.
•    Pada periode ini terjadi krisis moneter yang melanda negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia. Karena krisis moneter dan peristiwa politik dalam negeri yang mengganggu perekonomian menyebabkan rezim Orde Baru runtuh.

3.    Masa Reformasi (1998 - Sekarang)

a.    Presiden B.J.Habibie

      Pada  tanggal 14 dan 15 Mei 1997, nilai tukar baht Thailand terhadap dolar AS mengalami suatu goncangan hebat akibat para investor asing mengambil keputusan ‘jual’ karena mereka para investor asing tidak percaya lagi terhadap prospek perekonomian negara tersebut, paling tidak untuk jangka pendek. Pemerintan Thailand meminta bantuan IMF. Pengumuman itu mendepresiasikan nilai baht sekitar 15% hingga 20% hingga mencapai nilai terendah, yakni 28,20 baht per dolar AS.
Apa yang terjadi di Thailand akhirnya merebet ke Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya. Rupiah Indonesia mulai merendah sekitar pada bulan Juli 1997, dari Rp 2.500 menjadi Rp 2.950 per dolar AS. Nilai rupiah dalam dolar mulai tertekan terus dan pada tanggal 13 Agustus 1997 rupiah mencapai rekor terendah, yakni Rp 2.682 per dolar AS sebelum akhirnya ditutup Rp 2.655 per dolar AS. Pada tahun 1998, antara bulan Januaru-Februari sempat menembus Rp 11.000 per dolar AS dan pada bulan Maret nilai rupiah mencapai Rp 10.550 untuk satu dolar AS.
Keadaan sistem ekonomi Indonesia pada masa pemerintahan transisi memiliki karakteristik sebagai berikut:
•    Kegoncangan terhadap rupiah terjadi pada pertengahan 1997, pada saat itu dari Rp 2500 menjadi Rp 2650 per dollar AS. Sejak masa itu keadaan rupiah menjadi tidak stabil.
•    Krisis rupiah akhirnya menjadi semakin parah dan menjadi krisis ekonomi yang kemudian memuncuilkan krisis politik terbesar sepanjang sejarah Indonesia.
•    Pada awal pemerintahan yang dipimpin oleh Habibie disebut pemerintahan reformasi. Namun, ternyata pemerintahan baru ini tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, sehingga kalangan masyarakat lebih suka menyebutnya sebagai masa transisi karena KKN semakin menjadi, banyak kerusuhan.
Yang dilakukan habibie untuk memperbaiki perekonomian indonesia :
1. Merekapitulasi perbankan dan menerapkan independensi Bank Indonesia agar lebih fokus mengurusi perekonomian.
Bank Indonesia adalah lembaga negara yang independent berdasarkan UU No. 30 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia. Dalam rangka mencapai tujuan untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah, Bank Indonesia didukung oleh 3 (tiga) pilar yang merupakan 3 (tiga) bidang utama tugas Bank Indonesia yaitu :
•    Menetapkan dan melaksanakan kebijaksanaan moneter
•    Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran
•    Mengatur dan mengawasi Bank
2. Melikuidasi beberapa bank bermasalah.
Likuiditas adalah kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Pengertian lain adalah kemampuan seseorang atau perusahaan untuk memenuhi kewajiban atau utang yang segera harus dibayar dengan harta lancarnya. Banyaknya utang perusahaan swasta yang jatuh tempo dan tak mampu membayarnya dan pada akhirnya pemerintah mengambil alih bank-bank yang bermasalah dengan tujuan menjaga kestabilan ekonomi Indonesia yang pada masa itu masih rapuh.
3. Menaikan nilai tukar rupiah
Selama lima bulan pertama tahun 1998, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS berfluktuasi. Selama triwulan pertama, nilai tukar rupiah rata-rata mencapai sekitar Rp9200,- dan selanjutnya menurun menjadi sekitar Rp8000 dalam bulan April hingga pertengahan Mei. Nilai tukar rupiah cenderung di atas Rp10.000,- sejak minggu ketiga bulan Mei. Kecenderungan meningkatnya nilai tukar rupiah sejak bulan Mei 1998 terkait dengan kondisi sosial politik yang bergejolak. nilai tukar rupiah menguat hingga Rp. 6500 per dollar AS di akhir masa pemerintahnnya.
4. Mengimplementasikan reformasi ekonomi yang diisyaratkan oleh IMF.

b.    Presiden Abdurahman wahid

      Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kondisi perekonomian Indonesia mulai mengarah pada perbaikan, di antaranya pertumbuhan PDB yang mulai positif, laju inflasi dan tingkat suku bunga yang rendah, sehingga kondisi moneter dalam negeri juga sudah mulai stabil.
Hubungan pemerintah dibawah pimpinan Abdurahman Wahid dengan IMF juga kurang baik, yang dikarenakan masalah, seperti Amandemen UU No.23 tahun 1999 mengenai bank Indonesia, penerapan otonomi daerah (kebebasan daerah untuk pinjam uang dari luar negeri) dan revisi APBN 2001 yang terus tertunda.
      Politik dan sosial yang tidak stabil semakin parah yang membuat investor asing menjadi enggan untuk menanamkan modal di Indonesia.
      Makin rumitnya persoalan ekonomi ditandai lagi dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cenderung negatif, bahkan merosot hingga 300 poin, dikarenakan lebih banyaknya kegiatan penjualan daripada kegiatan pembelian dalam perdagangan saham di dalam negeri.
      Pada masa kepemimpinan presiden Abdurrahman Wahid pun, belum ada tindakan yang cukup berarti untuk menyelamatkan negara dari keterpurukan. Padahal, ada berbagai persoalan ekonomi yang diwariskan orde baru harus dihadapi, antara lain masalah KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme), pemulihan ekonomi, kinerja BUMN, pengendalian inflasi, dan mempertahankan kurs rupiah. Malah presiden terlibat skandal Bruneigate yang menjatuhkan kredibilitasnya di mata masyarakat.

c.    Presiden Megawati Soekarnoputri

Kebijakan-kebijakan yang ditempuh untuk mengatasi persoalan-persoalan ekonomi antara lain:
1.      Meminta penundaan pembayaran utang sebesar US$ 5,8 milyar pada pertemuan Paris Club ke-3 dan mengalokasikan pembayaran utang luar negeri sebesar Rp 116.3 triliun.
2.      Kebijakan privatisasi BUMN. Privatisasi adalah menjual perusahaan negara di dalam periode krisis dengan tujuan melindungi perusahaan negara dari intervensi kekuatan-kekuatan politik dan mengurangi beban negara. Hasil penjualan itu berhasil menaikkan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,1 %. Namun kebijakan ini memicu banyak kontroversi, karena BUMN yang diprivatisasi dijual ke perusahaan asing.
3.      Di masa ini juga direalisasikan berdirinya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), tetapi belum ada gebrakan konkrit dalam pemberantasan korupsi. Padahal keberadaan korupsi membuat banyak investor berpikir dua kali untuk menanamkan modal di Indonesia, dan mengganggu jalannya pembangunan nasional.

d.    Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

       Pada pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kebijakan yang dilakukan adalah mengurangi subsidi Negara Indonesia atau menaikkan harga Bahan Bahan Minyak (BBM), kebijakan bantuan langsung tunai kepada rakyat miskin akan tetapi bantuan tersebut di berhentikan sampai pada tangan rakyat atau masyarakat yang membutuhkan, kebijakan menyalurkan bantuan dana BOS kepada sarana pendidikan yang ada di Negara Indonesia. Akan tetapi pada pemerintahan SBY dalam perekonomian Indonesia terdapat masalah dalam kasus bank century yang sampai saat ini belum terselesaikan bahkan sampai mengeluarkan biaya 93 miliar untuk menyelesaikan kasus bank century ini.
       Kondisi perekonomian pada masa pemerintahan SBY mengalami perkembangan yang sangat baik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh pesat di tahun 2010 seiring pemulihan ekonomi dunia pasca krisis global yang terjadi sepanjang 2008 hingga 2009.Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 5,5-6 persen pada 2010 dan meningkat menjadi 6 - 6,5 persen pada 2011. Dengan demikian, prospek ekonomi Indonesia akan lebih baik dari perkiraan semula.
       Sementara itu, pemulihan ekonomi global berdampak positif terhadap perkembangan sektor eksternal perekonomian Indonesia. Kinerja ekspor nonmigas Indonesia yang pada triwulan IV - 2009 mencatat pertumbuhan cukup tinggi yakni mencapai sekitar 17 persen dan masih berlanjut pada Januari 2010. Salah satu penyebab utama kesuksesan perekonomian Indonesia adalah efektifnya kebijakan pemerintah yang berfokus pada disiplin fiskal yang tinggi dan pengurangan utang negara. Masalah-masalah besar lain pun masih tetap ada. Pertama, pertumbuhan makro ekonomi yang pesat belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat secara menyeluruh. Walaupun Jakarta identik dengan vitalitas ekonominya yang tinggi dan kota-kota besar lain di Indonesia memiliki pertumbuhan ekonomi yang pesat, masih banyak warga Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Sumber :
http://fatwarohman.blogspot.com/2013/09/perkembangan-ekonomi-keuangan-dan_16.html
http://merinaastuti.blogspot.com/2013/04/sistem-ekonomi-indonesia-pada-masa-orde_20.html
http://www.slideshare.net/LRNurH/indonesia-pada-masa-orde-baru
http://agustinadais.blogspot.com/2013/04/makalah-perekonomian-indonesia-pada.html
http://wasisriyanto2903.blogspot.com/2013/01/kebijakanekonomi-yang-diterapkan-oleh.html
http://www.slideshare.net/ismiayu/masa-pemerintahan-susilo-bambang-yudhoyono

Minggu, 15 Desember 2013

BREAK EVENT POINT

BREAK EVENT POINT / TITIK IMPAS



A.    PENGERTIAN
Break event point adalah suatu keadaan dimana dalam suatu operasi perusahaan tidak mendapat untung maupun rugi/ impas (penghasilan = total biaya)

B.    MANFAAT  BEP
BEP amatlah penting kalau kita membuat usaha agar kita tidak mengalami kerugian, apa itu usaha jasa atau manufaktur, diantara manfaat BEP  adalah
1.    alat perencanaan untuk hasilkan laba
2.    Memberikan informasi mengenai berbagai tingkat volume penjualan, serta hubungannya dengan kemungkinan memperoleh laba menurut tingkat penjualan yang bersangkutan.
3.     Mengevaluasi laba dari perusahaan secara keseluruhan
4.    Mengganti system laporan yang tebal dengan grafik yang mudah dibaca dan dimengerti

C.    KOMPONEN BEP
Setelah kita mengetahui betapa manfaatnya BEP dalam usaha yang kita rintis, komponen yang berperan disini yaitu biaya, dimana biaya yang dimaksud adalah biaya variabel dan biaya tetap, dimana pada prakteknya untuk memisahkannya atau menentukan suatu biaya itu biaya variabel atau tetap bukanlah pekerjaan yang mudah,
•    Biaya tetap adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh kita untuk produksi ataupun tidak
•    biaya variabel adalah biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan satu unit produksi jadi kalau tidak produksi maka tidak ada biaya ini

D.    KELEMAHAN dan KELEBIHAN BEP
Salah satu kelemahan dari BEP yang lain adalah Bahwa hanya ada satu macam barang yang diproduksi atau dijual. Jika lebih dari satu macam maka kombinasi atau komposisi penjualannya (sales mix) akan tetap konstan. Jika dilihat di jaman sekarang ini bahwa perusahaan untuk meningkatkan daya saingnya mereka menciptakan banyak produk jadi sangat sulit dan ada satu asumsi lagi
yaitu Harga jual persatuan barang tidak akan berubah berapa pun jumlah satuan barang yang dijual atau tidak ada perubahan harga secara umum. Hal ini demikian pun sulit ditemukan dalam kenyataan dan prakteknya.

E.    CARA MENGHITUNG BEP
Ada 2 perhitungan BEP yakni:
1.    dalam satuan unit

rumus umum: BEP(Q) = TFC/P-VC
Keterangan :
TFC = total fixed asset/biaya tetap
P      = Harga/satuan
VC   = Biaya Variabel

Contoh soal :
Jika biaya tetap sebuah barang Rp 400.000, biaya variabelnya Rp 2.000 dan harga/satuannya adalah  Rp 10.000. maka tentukan titik impasnya dalam satuan unit
Jawab:
TFC = 400000
P      = 10000
VC   = 2000
BEP(Q) = TFC/(P-VC)
BEP(Q) = 400000/(10000-2000)
BEP(Q) = 400000/8000
BEP(Q) = 50 unit
Jadi titik impasnya adalah 50 unit

2.    dalam satuan uang/biaya

Rumus umum: BEP(p) = TFC/(1-TVC/S)
                      S          = PxQ
                      TVC     = VCxQ

Keterangan :
Q       = kapasitas produksi maksimum
TFC  = Biaya tetap
P       = Harga jual/unit
VC    = Biaya variabel

Contoh soal:
Jika uatu perusahaan mengeluarkan biaya tetap Rp 800000 ,biaya variabel Rp 8000/unit ,harga jual Rp 16000/unit dan kapasitas produksi maksimal 1000 unit, tentukan BEP(p)

Jawab :
TFC = 800000
P      = 16000
VC   = 8000
Q      = 1000
TVC = VCxQ = 8000x1000 = 8000000
S       = PxQ = 16000x1000 = 16000000

BEP(p) = TFC/(1-TVC/S)
BEP(p) = 8000000/(1-8000000/16000000)
BEP(p) = 8000000/(1-O,5)
BEP(p) = 8000000/0,5
BEP(p) = 16000000
Jadi titik impas / BEP(p)-nya adalah Rp 16.000.000

F.    EFEK PENAMBAHAN FAKTOR TERHADAP BEP
1.    Harga jual
“Jika harga jual dinaikkan maka BEP akan turun begitu pula sebaliknya”
2.    Harga tetap
“Jika harga tetap dinaikkan maka BEP akan naik begitu pula sebaliknya”
3.    Sales mix
Untuk perusahaan yang memproduksi lebih dari satu produk

NILAI WAKTU UANG

NILAI WAKTU UANG
   

       Adalah sebuah konsep yang berkaitan dengan waktu dalam menghitung uang. Artinya, uang yang dimiliki seseorang pada hari ini tidak akan sama nilainya dengan satu tahun yang akan datang. Uang yang diterima sekarang nilainya lebih besar daripada uang yang diterima di masa mendatang. Lebih awal uang anda menghasilkan bunga, lebih cepat bunga tersebut  menghasilkan bunga. Nilai waktu dari uang berkaitan dengan nilai saat ini dan nilai yang akan datang. Suatu jumlah uang tertentu saat ini dinilai untuk waktu yang akan datang maka jumlah uang tersebut harus digandakan dengan tingkat bunga tertentu (Compound Factor).
kita akan membahas 4 konsep, yaitu:
1.    Future Value of Single Sum
2.    Present Value of Single Sum
3.    Future Value of Anuity
4.    Present Value of Anuity

Pembahasan:
1.    Future Value Of Single Sum
Digunakan untuk mengetahui nilai investasi di masa depan dengan tingkatsuku bunga dan periode tertentu .

Rumus Umum :  FV= PVx(1+i)^n
Keterangan:
                   FV = FUTURE VALUE / Nilai Masa Depan
                   PV = PRESENT VALUE / Nilai Saat Ini
                   I     = Tingkat Suku Bunga Pada Periode Tertentu
                   n     = Periode
Contoh Soal:  Aji menabungkan uangnya sejumlah Rp150.000,00 di Bank DKI, jika bunga bank yang diberikan 14% per tahun. Hitunglah uang aji pada tahun ke-8
Dik: PV = 150.000
         I    = 14%
         N   = 8
Jawab:
    FV = PVx(1+i)^n
    FV = 150000 x (1+14%)^8
    FV = 150000 x 2,852586
    FV = 427888
Jadi uang aji pada tahun ke-8 adalah Rp 427.888,00

2.    Present Value of Single Sum
Digunakan untuk mengetahui nilai sekarang dari invertasi dimasa depan dengan tingkat suku bunga dan periode tertentu

Rumus Umum : PV = FV/(1+i)^n

Keterangan : PV = Present Value/nilai sekarang
                    FV = Future Value / nilai masa depan
                    I    = tingkat suku bunga

Contoh soal:  Tentukan nilai sekarang dari Rp1000000 pada tahun ke-6 dan    tingkat suku bunga 9%
Jawab:       PV = FV/(1+i)^n
                 PV = 1.000.000/(1+9%)^6
                 PV = 1.000.000/1,6771
                 PV = 596267,3
Jadi nilai sekarangnya adalah Rp 596.267,3

sebelum ke materi yang ke-3 dan ke-4 kita pahami dulu konsep anuity / anuitas
ANUITAS adalah suatu rangkaian penerimaan atau pembayaran tetap yang dilakukan secara berkala pada jangka waktu tertentu
Ada 2 jenis anuitas, yaitu:
A.    Anuitas biasa (ordinary) : anuitas yang pembayaran atau penerimaannya terjadi pada akhir periode
B.    Anuitas jatuh tempo (due) : anuitas yang pembayaran atau penerimaannya dilakukan di awal periode

3.     FUTURE VALUE OF ANUITY
Digunakan untuk mengetahui nilai masa depan menggunakan konsep anuitas

Rumus umum FV = PVx[(1+i)^n-1]/i
Keterangan:
FV = nilai masa depan
PV = nilai sekarang
I    = tingkat suku bunga
N    = periode

Contoh soal :
Jika menabung rutin Rp250.000,00/tahun di bank dengan bunga 6%/tahun. Tentukan jumlah tabungan tersebut pada tahun ke-13

Jawab:
PV= 250000
I   = 6%
N = 13
FV=PVx[(1+i)^n-1]/i
FV=250000x[(1+6%)^13-1]/6%
FV=250000x18,882
FV=4720500
Jadi uang pada tahun ke-13 adalah Rp 4.720.500,00

4.    PRESENT VALUE OF ANUITY
Digunakan untuk mengetahui nilai sekarang dengan konsep anuitas

Rumus umum: PV = FVx[1-1/(1+i)^n]/i

Keterangan:
PV = nilai sekarang
FV = nilai masa depan
I     = tingkat suku bunga
N   = periode

Contoh soal :
Tentukan nilai sekarang dari Rp 10.000.000 dengan bunga 5% selama 10 tahun

Jawab :
FV= 10000000
I    = 5%
N  = 10
            
 PV = FVx[1-1/(1+i)^n]/i
 PV = 10000000x[1-1/(1+5%)10]/5%
 PV = 10000000x7,7217
 PV = 77217000

Jadi nilai sekarangnya adalah Rp 77.217.000,00





PENJUALAN

P E N J U A L A N




A.    PENGERTIAN
1.    Henry simamora. Penjualan adalah pendapatan lazim perusahaan dan merupakan jumlah kotor yang dibebankan kepada pelanggan atas barang dan jasa
2.    Chairul marom. Penjualan barang dagangan sebagai usaha pokok perusahaan yang biasanya dilakukan secara teratur
Kesimpulan dari 2 pengertian diatas, penjualan adalah usaha pokok perusahaan yang menghasilkan pendapatan lazim yang dilakukan secara teratur.

B.    MANAJEMEN PENJUALAN
Citra perusahaan dapat tercermin dari sikap tenaga penjualan terhadap konsumen. Sehingga perusahaan perlu menjaga nama baik perusahaan dengan memilih tenaga-tenaga penjualan yang baik. Tugas manajemen penjualan bukan hanya menjual, tetapi juga menentukan kebutuhan, mendidik, memelihara dan mengembangkan tenaga penjualan.
•    Proses manajemen penjualan
1.    Penentuan deskripsi tugas, meliputi:
a.    Memperoleh calon pembeli yang qualified
b.    Mempunyai khalayak
c.    Mengenali kebutuhan pelanggan
d.    Melakukan presentasi dan peragaan penjualan
e.    Mengatasi keluhan atau sanggahan pelanggan
f.    Menutup penjualan
g.    Melaksanakan pelaksanaan purna jual
2.    Penentuan kebutuhan dan organisasi penjualan
      Dua pendekatan penentuan kebutuhan tenaga penjualan
a.    Fungsi dari anggaran penjualan
Penentuan besarnya tenaga penjualan berdasarkan dana yang tersedia
b.    Metode beban kerja
Penentuan besarnya kebutuhan tenaga penjualan didasarkan atas kebutuhan akan frekuensi ideal dan lamanya kunjungan yang diperlukan untuk melayani penjualan.
3.    Mencari dan memilih calon karyawan
Langkah penting dalam penarikan karyawan adalah melakukan analisis pekerjaan dan menyiapkan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi calon tenaga penjual
4.    Pemberian kompensasi dan motivasi
Metode kompensasi:
a.    Upah langsung
Karyawan menerima upah tetap perbulan, akan tetapi metode ini kurang mampu membangkitkan semangat untuk meningkatkan usaha-usaha penjualan.
b.    Komisi langsung
Metode ini akan membayar sejumlah tetap uang yang berkaitan dengan tingkat penjualan atau keuntungan penjualan
c.    Kombinasi upah dan komisi
Tujuannya adalah mencoba mencapai kebaikan-kebaikan dari kedua metode dengan menekan kelemahan-kelemahannya
d.    Bonus
Masalah yang mungkin timbul adalah adanya faktor subyektifitas dalam penentuannyaoleh manajemen terhadap prestasi sehingga mengundang penilaian ketidakadilan karyawan terhadap pemberiannya
5.    Mengevaluasi untuk kerja
Penilaian untuk tenaga kerja penjualan merupakan hal yang kompleks, karena tenaga penjual dan wilayah adalah berlainan situasi. Masing-masing tenaga penjual mempunyai kewajiban untuk menulis laporan kerjanya, contohnya laporan kunjungan. Laporan kunjungan akan dinilai dan dievaluasi oleh manajemen dengan 3 metode:
a.    Perbandingan antar tenaga penjual
b.    Perbandingan dengan hasil masa lalu
c.     Wawancara terhadap kemampuan tenaga penjual.

C.    TEKNIK PENJUALAN
Meliputi 2 tipe:
1.    Kegiatan pasif, hanya menerima pesanan. Beranggapan bahwa pelanggan mengetahui apa yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhannya
2.    Kegiatan aktif, yaitu mencari pesanan
Pendekatan penjualan aktif:
a.    Orientasi penjualan. Beranggapan bahwa pelanggan tidak akan membeli kecuali apabila mendapat tekanan atau rayuan untuk membeli
b.    Orientasi pelanggan. Beranggapan bahwa pelanggan sebenarnya mempunyai permintaan terhadap produk perusahaan, oleh karena itu perlu digali dan dikembangkan agar mampu direalisasikan

D.    TAHAPAN PROSES PENJUALAN
Meliputi :
1.    Tahap mencari calon pelanggan (prospecting)
2.    Tahap mencari informasi calon pelanggan (preapproach)
3.    Tahap mendekati pelanggan (approach)
4.    Tahap presentasi dan peragaan barang (presentation)
5.    Tahap penanganan tanggapan atau penolakan pelanggan (handling objection)
6.    Tahap menutup penjualan (closing  a sale)
7.    Tahap pelayanan purna-jual (follow-up)



Kamis, 12 Desember 2013

DISTRIBUSI

DISTRIBUSI / PENDISTRIBUSIAN


A.    PENGERTIAN

Distribusi atau pendistribusian adalah kegiatan pemasaran yang berusaha memperlancar serta mempermudah penyampaian produk dan jasa dari produsen kepada konsumen sehingga penggunaannya sesuai (jenis,jumlah,tempat,dan saat) dengan yang diperlukan.
Distribusi yang efektif akan memperlancar arus atau akses barang oleh konsumen sehingga dapat diperoleh kemudahan memperolehnya.di samping itu konsumen juga akan dapat memperoleh barang sesuai dengan yang diperlukan.

B.    PROSES PENDISTRIBUSIAN


 












Proses pendistribusian merupakan kegiatan pemasaran yang mampu:
1.    Menciptakan nilai tambah produkmelalui fungsi-fungsi pemasaran
2.    Memperlancar arus saluran pemasaran
Secara fungsional, proses pendistribusian di bedakan menjadi 3 tahapan
1.    Kegiatan pemilihan
a.    Fungsi akumulasi
b.    Fungsi klasifikasi
c.    Fungsi alokasi
d.    Fungsi gabungan
2.    Kegiatan pertemuan
Merupakan usaha mempertemukan produsen dengan konsumen. Kegiatannya meliputi usaha mencari informasi tentang permintaan produk dan informasi pasar serta melakukan kegiatan promosi
3.    Kegiatan pertukaran
Merupakan kegiatan negosiasi dan transaksi yang meliputi pertukaran produk serta kepemilikannya hingga kegiatan pembayaran dan pengiriman barang.

C.    SISTEM DISTRIBUSI


 











Secara umum dibagi 2, yaitu:
1.    Sistem distribusi langsung
Sistem distribusi langsung tidak menggunakan perantara yang independen. Produsen langsung ke konsumen. Umumnya digunakan untuk direct order, direct selling, dan direct relationship marketing
2.    Sistem tidak langsung
Tipe saluran distribusi tidak langsung menggunakan satu atau berbagai perantara untuk sampai ke konsumen. Dapat berbentuk
•    Sistem pendistribusian tradisional, menggunakan perantara independen dari pengendalian produsen. Sistem ini dapat menciptakan konflik apabila ada perbedaan pendapat atau perbedaan kepentingan.
•    Sistem pendistribusian vertikal, dapat dilakukan melalui cara: administrasi, kontraktual, maupun korporasi

D.    LEMBAGA SALURAN DISTRIBUSI
Lembaga saluran distribusi adalah individu atau lembaga organisasi yang melakukan atau melaksanakan seluruh atau sebagian kegiatan penyampaian barang dari produsen ke konsumen
Lembaga saluran distribusi meliputi lembaga utama (pedagang dan agen) dan lembaga penunjang (lembaga pengawas, transportasi, pembungkusan, pergudangan, asuransi, periklanan, dan keuangan).

E.    RANTAI SALURAN DISTRIBUSI
Jenjang atau panjangnya rantai saluran distribusi menunjukan tingkatan tidak langsungnya sistem saluran distribusi. Rantai saluran distribusi untuk produk-produk konsumen mempunyai pola yang berbeda dengan pola untuk produk-produk industrial yakni lebih panjang.

F.    INTENSITAS SALURAN DISTRIBUSI
Intensitas saluran distribusi dibedakan sebagai:
1.    DISTRIBUSI INTENSIF, adalah penjualan produk melalui segala kemungkinan saluran distribusi secara intensif, umumnya digunakan untuk Convenience products dan Industrial supplies
2.    DISTRIBUSI SELEKTIF, adalah penjualan produk melalui saluran distribusi yang mempunyai perhatian khusus terhadap produk tersebut. Untuk itu produsen perlu melakukan seleksi terhadap penyalur yang benar-benar baik. Distribusi selektif umumnya diperlukan untuk Shopping goods dan material products.
3.    DISTRIBUSI EKSLUSIF, adalah penjualan produk melalui satu penyalur pada wilayah atau daerah tertentu. Sehingga pengendalian harga maupun pelayanan yang diberikan produsen kepada pelanggan akan lebih baik. Umumnya diperlukan perjanjian tertulis maupun lisan agar hubungan yang ekslusif tersebut dapat dipertahankan. Specialty goods dan capital goods seringkali menggunakan distribusi ekslusif

G.    DISTRIBUSI FISIK
Tujuan dasar dari pengelolaan distribusi fisik atau manajemen logistik adalah menekan biaya distribusi fisik dan peningkatan pelayanan konsumen melalui kegiatan perencanaan, pengendalian dan pelaksanaan yang terpadu. Alasan kegiatan manajemen logistik menjadi penting:
1.    Biaya distribusi fisik meningkat tajam
2.    Pengertian pemasaran yang semakin luas
3.    Permintaan pasar yang semakin kompetitif
Alasan-alasan tersebut mendorong produsen untuk mengembangkan sistem distribusi fisik melalui sistem manajemen ilmiah yang terpadu dengan dukungan teknologi komputer, model matematik, atau riset operasional.
Kegiatan distribusi fisik:
1.    Forecasting (demand & supply) :peramalan atas permintaan untuk memperkirakan persediaan yang akan ditangani
2.    Order processing (accounting system) :pengendalian barang fisik dikendalikan melalui sistem pemesanan barang atau dengan sistem pencatatan
3.    Packaging & material handling :proses pemindahan barang fisik akan lebih baik (lancar) apabila barang itu dikemas dan dipindahkan melalui alat-alat yang efisien
4.    Transporting (surface,air,pipe transport) :menghubungkan beberapa tempat penyimpanan sementara melalui sistem transportasi
5.    Warehousing (public or private warehouse) :penyimpanan persediaan memerlukan fasilitas gudang maupun pusat-pusat distribusi
6.    Management inventory :penyimpanan maupun pemindahan barang-barang persediaan menciptakan alternatif yang harus dipilih

Dimensi Costumer Service: sistem distribusi fisik mempunyai beberapa dimensi pelayanan konsumen yang dapat diukur melalui beberapa indikator, antara lain:
1.    Siklus pemesanan hingga barang diterima
2.    Persentase permintaan yang dapat dipenuhi
3.    Pengendalian kualitas untuk proses pemesanan
4.    Kondisi fisik barang selama masa pengiriman
5.    Persentase kekurangan persediaan
6.    Kemudahan melakukan pemesanan
Dimensi tersebut merupakan indikator-indikator yang dapat dipergunakan untuk mengukur sampai seberapakonsumen dapat dipuaskan produsen atau distributor.









PERSEDIAAN BARANG

PERSEDIAAN BARANG


A.    PENGERTIAN

Pengertian persediaan menurut beberapa ahli
1.    Koher, Erik L.A : bahan baku dan penolong, barang jadi dan barang dalam produksi dana barang-barang yang tersedia, yang dimiliki dalam perjalanan dalam tempat penyimpanan atau konsinyasikan kepada pihak lain pada akhir periode.
2.    Ristono (2009) : suatu teknik untuk manajemen material yang berkaitan dengan persediaan
3.    Lalu Sumayang (2003) : simpanan material yang berupa bahan mentah, barang dalam proses dan barang jadi
4.    Hani Handoko (2000) : suatu istilah umum yang menunjukan segala sesuatu atau sumber daya-sumber daya organisasi yang disimpan dalam antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan

B.    FUNGSI PERSEDIAAN BARANG
Fungsi produksi suatu perusahaan tidak dapat berjalan lancar tanpa adanya persediaan yang mencukupi. Persediaan timbul karena penawaran dan permintaan berada dalam tingkat yang berbeda sehingga material yang disediakan berbeda. Secara umum persediaan berfungsi untuk mengelola persediaan barang dagangan yang selalu mengalami perubahan jumlah dan nilai melalui transaksi-transaksi pembelian dan penjualan.

C.    TUJUAN PERSEDIAAN BARANG
1.    Menghilangkan pengaruh ketidakpastian
2.    Mempersiapkan stok apabila ada keperluan mendadak
3.    Mengantisipasi perubahan harga pada pasar produksi
4.    Memberi waktu luang untuk pengelolaan produksi dan pembelian
5.    Untuk mengantisipasi perubahan permintaan dan penawaran

D.    PENGELOLAAN PERSEDIAAN
















Persediaan disini termasuk juga bahan baku, barang penolong maupun barang dalam proses. Persediaan barang berkaitan erat dengan proses produksi perusahaan sehingga jumlah persediaan ini selalu berubah sesuai dengan perputaran yang ada di bagian produksi.

Pengelolaan persediaan mempunyai arti penting karena berhubungan dengan volume penjualan perusahaan dan akhirnya nantinya juga mempengaruhi pencapaian laba perusahaan. Pengelolaan persediaan yang salah dapat mengakibatkan masalah yang fatal, yakni:
1.    Beban bunga yang tinggi jika dana yang dipakai merupakan dana kredit dari bank
2.    Biaya penyimpanan yang tinggi seiring dengan semakin besarnya barang yang disimpan
3.    Biaya penyimpanan akan memberikan dampak bertambahnya biaya pemeliharaan yang besar juga
4.    Menanggung beban resiko kerusakan makin besar kalau penyimpanan barangnya juga besar
5.    Menanggung beban penurunan kualitas terhadap barang persediaan yang kurang lama atau cepat rusak,  misalnya: bahan alam, kelalaian petugas, sifat barang itu sendiri dan sebagainya.

Disamping kesalahan pengelolaan yang bersifat negatif, maka demikian juga kalau persediaan barang terlalu kecil juga akan mengakibatkan timbulnya dampak negatif,yaitu:
1.    Mengganggu kelancaran proses produksi
2.    Terjadinya kapasitas-kapasitas mesin yang menganggur
3.    Beralihnya langganan ke perusahaan lain

Mengelola persediaan barang dengan baik bukanlah hal yang mudah. tentunya persediaan juga harus memperhatikan permintaan pasar. Ini diperlukan agar tidak terjadi persediaan berlebihan pada barang yang kurang diminati oleh pelanggan. Kalau sampai tidak memperhatikan pasar, maka persediaan tersebut akan merugikan suatu usaha karena dapat beresiko terjadinya kerusakan persediaan atau harga perolehan barang tersebut menjadi turun drastis.

Biaya yang dikeluarkan untuk mengelola persediaan pada umumnya relatif besar sehingga diperlukan adanya metode pencatatan persediaan yang tepat agar dapat ditetapkan nilai persediaan barang yang belum terjual dan harga pokok penjualan dengan tepat pula.

Jadi tujuan dari manajemen persediaan adalah untuk merencanakan dan mengendalikan tingkat persediaan agar dapat melayani kebutuhan atau permintaan dari waktu kewaktu serta dapat meminimumkan biaya total perusahaan.

KOMUNIKASI

K O M U N I K A S I



A.    Pentingnya Komunikasi
Masalah komunikasi ini inherent(melekat) terhadap kebutuhan manusia. Demikian pula halnya pada organisasi bisnis, komunikasi merupakan sumber kehidupannya. Seperti dinyatakan: komunikasi merupakan “darah sebagai sumber kehidupan” bagi setiap organisasi dan merupakan kunci sukses dalam karir bisnis dan kehidupan pribadi seseorang.(Murphy dan peck 1980;3) jelas bahwa komunikasi sangat penting bagi organisasi bisnis sehingga bila tidak ada komunikasi organisasi itu akan tidak berfungsi.
Dalam organisasi terdapat 2 jalur komunikasi yakni: komunikasi internal dan komunikasi eksternal. Jalur Komunikasi internal yaitu komunikasi dalam organisasi, sangat penting untuk jalannya roda organisasi. Sedangkan jalur komunikasi eksternal diperlukan untuk berkomunikasi dengan orang-orang lain diluar organisasi. Separti relasi, pelanggan, konsumen atau pada masyarakat umumnya. Mempunyai daya jangkau jauh sehingga akan membentuk goodwill (nama baik).

B.    Pengertian Komunikasi
komunikasi adalah suatu proses penyampaian atau penerimaan berita atau informasi dari seseorang ke orang lain. adapun menurut para ahli, yakni:
•    Herbert T, komunikasi adalah proses mentransfer pengetahuan atau makna untuk mencapai tujuan tertentu.
•    Krech, definisi sederhana menyatakan bahwa komunikasi adalah kegiatan menggunakan simbol-simbol dalam rangka menyampaikan informasi tentang suatu objek.

C.    Penerapan Komunikasi Dalam Dunia Bisnis
komunikasi secara garis besarnya dibagi menjadi 2, yakni
1.    Komunikasi kedalam
Komunikasi kedalam itu sesuai dengan tujuan kepada siapa warta itu disampaikan. Dibagi menjadi 2, yakni komunikasi vertikal (penyampaian warta dari pimpinan ke pegawai dan sebaliknya) dengan demikian  komunikasi vertikal dibagi menjadi 2 yaitu komunikasi kebawah (pemberian perintah atau pemberian petunjuk dari pimpinan) dan komunikasi keatas (pemberian laporan dari bawahan ke atasan). Komunikasi horizontal bermaksud menjamin hubungan antar pimpinan yang setingkat dengan cara mengadakan pertemuan-pertemuan.
2.    Komunikasi keluar
Komunikasi keluar juga bertujuan menjamin hubungan yang baik antara pihak atasan dari perusahaan itu dengan pihak luar. Dapat diwujudkan dengan cara telepon, berbicara langsung atau pengiriman surat. Komunikasi keluar itu termasuk pada kategori eksternal function dari manager.
Komunikasi yang dilakukan satu arah amatlah tercela. Hendaknya pimpinan harus menggunakan sistem komunikasi yang cocok, untuk lebih lanjut perlu diterangkan terlebih dahulu unsur yang membangun proses komunikasi.
Unsur tersebut meliputi:
a.    Komunikator, orang yang menyampaikan informasi
b.    Pesan
c.    Media
d.    Komunikan, orang yang menerima informasi
e.    Efek yang terjadi dalam penyampaian komunikasi dari komunikator ke komunikan.
Adapun komunikasi yang cocok dilihat dari:
1.    Keadaan komunikasi atau orang yang menerima pesan
a.    Bahasa
b.    Pendidikan
c.    Latar belakang kehidupan sosial
d.    Perbedaan kedudukan
e.    Jarak
2.    Adanya saluran atau alat-alat komunikasi yang cukup
Dalam kondisi sekarang ini, komunikasi sudah sangat maju. Misalnya:
a.    Manusia
b.    Media lainnya

D.    Komunikasi Dalam Bisnis


1.    Komunikasi dengan langganan
Dikatakan sukses apabila konsumen tetap menjadi langganan dan terbentuk dalam dirinya sikap PATRONAGE BUYING MOTIVE dimana si konsumen jika berbelanja kesebuah toko hanya ingin memakai barang X saja, tidak mau digantikan dengan barang lain
2.    Komunikasi dengan pemerintah
Orang yang bergerak dibidang bisnis harus memahami dan mematuhi peraturan-peraturan  dan kewajiban yang dikeluarkan pemerintah seperti memperpanjang SIUP (Surat Ijin Usaha Perdagangan), mendatangi kantor pemerintah bidang ekonomi guna mendapatkan ijin-ijin tertentu,d.l.l
3.    Komunikasi dengan masyarakat
Perusahaan hidup ditengah-tengah masyarakat, sehingga antara keduanya terjalin kerjasama dan terjalin komunikasi.

E.    Teknik Komunikasi Bisnis
Banyak cara dapat dilakukan dalam komunikasi dalam bisnis, diantaranya:
a.    Mencetak bulletin
b.    Membuat film dokumenter
c.    Publicity
d.    Promosi

Teknik-teknik yang dapat dipilih dalam komunikasi persuasif adalah:
1.    Teknik asosiasi: penyajian pesan komunikasi dengan cara menumpahkannya pada suatu objek atau   peristiwa yang sedang menarik perhatian khalayak
2.    Teknik integrasi: kemampuan komunikator untuk menyatukan diri secara komunikatif dengan komunikan
3.    Teknik ganjaran: kegiatan untuk mempengaruhi orang lain dengan cara mengiming-iming hal yang menguntungkan atau yang menjadikan harapan
4.    Teknik tataan: upaya menyusun komunikasi sedemikian rupa sehingga enak didengar atau dibaca serta termotivasi untuk melakukan sebagaimana disarankan oleh pesan tersebut
5.    Teknik red-herring: seni seorang komunikator untuk meraih kemenangan dalam perdebatan dengan menggelakkan argumentasi yang lemah untuk kemudian mengalihkannya sedikit demi sedikit ke aspek yang dikuasainya guna dijadikan senjata ampuh dalam menyarang lawan.